Hampir setiap bayi lahir dengan sempurna.

Pernahkah kita bayangkan, bagaimana proses pembentukan janin dari sejak dari hubungan sex suami istri, kehamilan sampai kelahiran bayi? Pernahkah kita befikir bahwa bisa dikatakan setiap bayi yang dilahirkan oleh -baik dari ibu orang kaya yang tinggal di kota maupun ibu miskin yang hidup di pinggiran kota atau bahkan di pegunungan atau di daerah kumuh- hampir semua tumbuh sebagai manusia yang sempurna yang terdiri dari organ2 tubuh yang lengkap seperti mata, kaki, tangan ,jantung ginjal dan sebagainya yang secara sistim berfungsi normal layaknya makhluk hidup. Kita tidak pernah tahu bahwa semua itu diperlukan suatu proses yang rumit dan memerlukan kecermatan dan ketelitian yang tinggi dalam prosesnya.

Bagaimana sih awal terbentuknya janin ?

Mula-mula alam mempersiapkan prasarananya dulu. Prasarana ini harus sempurna untuk proses awal kehamilan. Pertama, adalah persiapan rahim pada wanita sebagai tempat indung telur dan sel telur yang akan dibuahi dan sebagai tempat berkembangnya sel telur yang sudah dibuahi dengan menyediakan nutrisi lengkap yang merupakan syarat pertumbuhan janin yang sempurna. Kedua adalah penyiapan sperma yang sehat pada pihak laki-laki. Sperma ini ditumpangi DNA, sel pembawa sifat, yang kira-kira seperti buku panduan yang berisi petunjuk pelaksanaan proses pembuatan janin. Mungkin tidak hanya member petunjuk, ia juga akan ikut mengatur proses pelaksanaannya. DNA ini mempunyai sifat yang sangat dipengaruhi oleh laki-laki yang memproduksinya, baik itu sifat fisik sperti bentuk mata, bentuk hidung dsb maupun sifat psikis yang berupa watak atau perangai orang tersebut. Tetapi selain dari laki-laki, sifat-sifat ini juga dipengaruhi dari pihak wanitanya.
Untuk memperoleh keberhasilan yang tinggi maka setiap semprotan sperma dihasilkan lebih dari seratus juta sperma, padahal nantinya yang membuahi sel telur hanya satu sperma saja!
Luar biasa! Makanya tingkat keberhasilan kehamilan hubungan seksual sangat tinggi.

Dalam suatu proses pembuahan ratusan juta sperma ini berkompetisi untuk membuahi satu sel telur ! Subhanallah! Dari ratusan juta sel sperma yang berlomba menuju ovum tersebut, sebagian besar akan mati dalam beberapa menit awal. Sebab, sel-sel tersebut harus melewati campuran pekat asam di dalam organ reproduksi wanita yang menghalangi pertumbuhan bakteri. Campuran asam ini juga mematikan bagi sperma.

Perlu diketahui bahwa sel sperma hanya berukuran 0,00005 cm. Namun ia harus menempuh perjalanan sepanjang rahim dan saluran indung telur sepanjang 20 cm untuk membuahi ovum yang berukuran 0,02 cm (400 kali lebih besar dari sperma) . Perjalanan itu ditempuh sperma dalam waktu 20-30 menit. Hal ini sama dengan berlari sejauh 400 km dalam waktu 30 menit
Untunglah, pada saat sperma sedang diproduksi dalam tubuh pria, senyawa basa ditambahkan pada cairan yang berisi sperma tersebut. Senyawa ini menurunkan pengaruh asam dalam rahim wanita. Oleh sebab itu, sejumlah sperma lolos memasuki rahim dan berhasil mencapai pintu masuk saluran indung telur. Tinggal ratusan ribu sel sperma yangkemudian berhasil mengerubungi sel ovum, tetapi akhirnya hanya satu yang diterima oleh ovum. Setelah sebuah sel sperma diterima oleh ovum, ovum akan menghalangi sel-sel sperma lain untuk masuk.

Seluruh proses fertilisasi memakan waktu sekitar 24 jam! Jadi hanya sperma yang sanggup lolos dari berbagai rintangan dan perjalanan yang melelahkan serta sanggup mengalahkan ratusan juta pesaingnya yang berhasil membuahi sel telur . Jadi bisa kita simpulkan bahwa hanya sperma yang super lah yang akan menjadi pelaku utama proses terbentuknya janin. Maka bisa kita fahami jika hampir setiap ibu akan melahirkan bayi yang sempurna.

Mungkinkah semua ini tanpa campur tangan dari Sang Ilmuwan Yang Maha Sempurna, Allah swt ? Maka tidak layak manusia untuk sombong dan mengabaikan keberadaan-Nya.

Semoga Bermanfaat


Sahabatku, sebetulnya apa sih pacaran itu?. Biasanya nih, kalau ada cowok dan cewek saling suka, salah satunya nyatain dan yang lainnya terima. Itu berarti sudah pacaran. Buat sebagian orang pacaran itu isinya jalan berdua, makan, nonton, curhat-curhatan. Pokoknya just for fun lah!. Sebagai umat Islam kita perlu lho mengkritisi, apakah “praktek pacaran” ini sesuai atau tidak dengan aturan-aturan dalam Islam?.

Pertama, kalau lagi pacaran maunya berdua terus. Beberapa hari tidak ditelpon udah resah, seharian tidak di sms udah kangen. Begitu ketemu pengen memandang wajahnya terus. Apalagi kalau pakai acara mojok berdua, di tempat sepi mesra-mesraan. Waduh, hati-hati deh. Rasulullah bersabda, “ Tiada bersepi-sepian seorang lelaki dan perempuan, melainkan syetan merupakan orang ketiga diantara mereka”. Nah lo....

Kedua, kalau lagi pacaran rasanya seperti dimabuk cinta. Lupa yang lainnya. Dunia serasa milik berdua yang lainnya ngontrak. Hati-hati juga nih, nanti kita bisa lupa sama tujuan Allah menciptakan kita (manusia). Firman-Nya, “ Dan tidak Kuciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepadaKu.” (QS 51:56)

Ketiga, di jaman serba permisif ini, seks udah jadi bumbu penyedap dalam pacaran (Majalah Hai edisi 4-10 Maret 2002). Majalah Kosmopolitan juga mengadakan riset di lima universitas terbesar di Jakarta, dan ternyata dari yang mengaku pernah melakukan aktivitas seksual, sebanyak 67,1% pertama kali melakukan dengan pacarnya. Astaghfirullah.. : ( Memang banyak orang pacaran awalnya tidak menjurus ke sana, tapi gara-gara sering berdua, ada kesempatan, dan diem-diem syetan udah ngerubung, yah terjadilah. Mulanya pegang tangan, terus rangkul pundak, terus…..terus…..wah bisa kebablasan deh. Sahabatku, agama kita sangat melarang perbuatan semacam itu. Firman-Nya, “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu pekerjaan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS 17:32). Ternyata Al Quran udah melakukan tindakan preventif dengan melarang mendekatinya, bukan melarang melakukannya. Rasulullah juga bersabda, “Seandainya kamu ditusuk dengan jarum besi, maka itu lebih baik bagimu daripada menyentuh perempuan yang tidak halal bagimu”. So, pegang-pegangan tangan dengan non muhrim juga tidak diperbolehkan.

Keempat, ternyata pacaran bukan jaminan akan berlanjut ke jenjang perkawinan. Banyak orang di sekitar kita yang sudah bertahun-tahun pacaran ternyata kandas di tengah jalan. Pacaran pun tidak menjadikan kita tahu segalanya tentang si dia. Banyak yang sikapnya berubah setelah menikah. Kalaulah kini kita tahu praktek pacaran tidak menjadi suatu jaminan bahkan banyak melanggar aturan Allah dan tidak mendapat ridho-Nya. Masihkah kita yang mengaku hamba-Nya, yang menginginkan surga-Nya, yang takut akan neraka-Nya, masih melakukannya?”

Hmm..., tapi kalau bukan dengan pacaran, gimana caranya kita ketemu jodoh? Jaman sekarang kan kita tidak bisa gampang percaya sama orang, jadi perlu ada penjajagan. Sahabatku, Islam punya solusi yang mantap dan OK dalam memilih jodoh. Istilahnya ngetop dengan nama TA’ARUF, yang artinya perkenalan. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam masalah taaruf.

Pertama, ta’aruf itu sebenarnya hanya untuk penjajagan sebelum menikah. Jadi kalau salah satu atau keduanya nggak merasa sreg bisa menyudahi ta’arufnya. Ini lebih baik daripada orang yang pacaran lalu putus. Biasanya orang yang pacaran hatinya sudah bertaut, sehingga kalau tidak cocok sulit putus dan terasa menyakitkan. Tapi ta’aruf, yang Insya Allah niatnya untuk menikah Lillahi Ta’ala, kalau tidak cocok bertawakal saja, mungkin memang bukan jodoh. Tidak ada pihak yang dirugikan maupun merugikan.

Kedua, ta’aruf itu lebih fair. Masa penjajakan diisi dengan saling tukar informasi mengenai diri masing-masing baik kebaikan maupun keburukannya. Bahkan kalau kita tidurnya sering ngorok, misalnya, sebaiknya diberitahukan kepada calon kita agar tidak menimbukan kekecewaan di kemudian hari. Begitu pula dengan kekurangan-kekurangan lainnya, seperti mengidap penyakit tertentu, tidak bisa masak, atau yang lainnya. Informasi bukan cuma dari si calon langsung, tapi juga dari orang-orang yang mengenalnya (sahabat, guru ngaji, orang tua si calon). Jadi si calon tidak bisa ngaku-ngaku dirinya baik. Ini berbeda dengan orang pacaran yang biasanya semu dan penuh kepura-puraan. Yang perempuan akan dandan habis-habisan dan malu-malu (sampai makan pun jadi sedikit gara-gara takut dibilang rakus). Yang laki-laki biarpun lagi bokek tetap berlagak kaya traktir ini itu (padahal dapet duit dari minjem temen atau hasil ngerengek ke ortu tuh).

Ketiga, dengan ta’aruf kita bisa berusaha mengenal calon dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Hal ini bisa terjadi karena kedua belah pihak telah siap menikah dan siap membuka diri baik kelebihan maupun kekurangan. Ini kan penghematan waktu yang besar. Coba bandingkan dengan orang pacaran yang sudah lama pacarannya sering tetap merasa belum bisa mengenal pasangannya. Bukankah sia-sia belaka?

Keempat, melalui ta’aruf kita boleh mengajukan kriteria calon yang kita inginkan. Kalau ada hal-hal yang cocok. Alhamdulillah, tapi kalau ada yang kurang sreg bisa dipertimbangan dengan memakai hati dan pikiran yang sehat. Keputusan akhir pun tetap berdasarkan dialog dengan Allah melalui sholat istikharah. Berbeda dengan orang yang mabuk cinta dan pacaran. Kadang hal buruk pada pacarnya, misalnya pacarnya suka memukul, suka mabuk, tapi tetap bisa menerima padahal hati kecilnya tidak menyukainya. Tapi karena cinta (atau sebenarnya nafsu) terpaksa menerimanya.

Kelima, kalau memang ada kecocokan, biasanya jangka waktu ta’aruf ke khitbah (lamaran) dan ke akad nikah tidak terlalu lama.Ini bisa menghindarkan kita dari berbagai macam zina termasuk zina hati. Selain itu tidak ada perasaan “digantung” pada pihak perempuan. Karena semuanya sudah jelas tujuannya adalah untuk memenuhi sunah Rasulullah yaitu menikah.

Keenam, dalam ta’aruf tetap dijaga adab berhubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya ada pihak ketiga yang memperkenalkan. Jadi kemungkinan berkhalwat (berdua-duaan) kecil yang artinya kita terhindar dari zina. Sahabatku, perlu digaris bawahi, ta'aruf hanyalah sebuah proses saling mengenal, belum ada ikatan untuk kelak pasti akan menikah, kecuali kalau sudah masuk proses yang namanya khitbah.

Ta'aruf bukanlah sebuah kepastian, hanyalah salah satu ikhtiar manusia, sedangkan jodoh ada di tangan Allah. Sehebat-hebatnya sebuah rencana, tetap rencana Allah-lah yang lebih hebat. Oleh karenanya, ketika kita ta'aruf semestinya kita tidak perlu memendam kecenderungan kepada pasangan, yang nantinya akan membuat kita sakit hati jika ternyata proses ta’aruf yang sedang kita jalani tidak berjalan seperti yang kita harapkan. Tetap bersikap legawa, apapun yang terjadi dengan proses yang tengah kita hadapi. Karena, jodoh adalah kehendak Allah.

Sahabatku, sekarang sudah jelas kan apa perbedaan pacaran dengan ta’aruf? Dalam Islam tidak ada yang namanya pacaran, dan pacaran itu hukumnya haram, karena aktivitas pacaran sangat dekat dengan zina. Dan ternyata ta’aruf banyak kelebihannya dibanding dengan pacaran, dan Insya Allah diridhoi Allah. Jadi, kita mau mencari kebahagiaan dunia akhirat dan menggapai ridho-Nya atau malah mau mencari kesulitan, dengan mencoba-coba melanggar perintah-NYa dan mendapat murka-Nya?. Sahabatku.., yuk kita benahi diri kita dan menjaganya dari hal-hal yang dapat mengotori hati.



Ada sebuah kisah yang insya Allah inspiratif tentang sepasang kekasih yang saling mencintai yang pada akhirnya cinta itu menjadi indah ketika mereka berkomitmen untuk menikah menjalani gelombang kehidupan bersama-sama walau badai senantiasa menerpa, tapi cinta mereka berdua tidak pernah goyah.

Si pemuda mempunyai kekasih yang cantik jelita, kecantikannya tak bisa dilukiskan oleh kata-kata, selain cantik si istri juga termasuk wanita solehah. Dia sangat rajin beribadah dan patuh kepada suaminya namun, bukan kecantikannya yang membuat si pemuda mencintai istrinya tetapi cinta karena Allah menjadi tujuannya.

Pada suatu hari si suami berpamitan kepada Istrinya untuk berdagang keluar kota selama beberapa hari. Si suami berjanji akan pulang secepatnya jika semua urusannya berjalan dengan lancar.

Selama kepergian suaminya, tersebarlah wabah penyakit menular di daerah tempat tinggal mereka berdua sehingga sang istri pun terkena penyakit menular itu, wajah sang istri yang dahulu cantik jelita, kini berubah menjadi wanita yang buruk rupa.

Sang suami yang sedang berdagang keluar kota belum mengetahui apa yang diderita oleh istrinya. Malang bagi sang suami, dalam perjalanannya menuju rumah, dia mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak bisa melihat seperti sedia kala.

Hari pun berganti hari dan bulan pun silih berganti. Sang istri yang dulu amat cantik bak bidadari kini menjadi wanita yang jelek dan menyeramkan, tapi semua itu tidak berarti apa-apa. karena sang suami buta dan tidak bisa melihat wajahnya. Cinta dan kasih sayang mereka semakin hari semakin kuat, tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan mereka.

Ketika usia sang istri sudah mencapai 45 tahun tibalah saatnya sang suami berpisah dengan istrinya. Sang istri telah tiba ajalnya dan akan menghadap Tuhannya. Sang suami adalah orang yang paling terakhir pulang dari pemakaman istrinya, ketika Dia hendak kembali kerumahnya datanglah seorang anak muda menghampirinya dan menyapa,

"Pak, bapak mau kemana?" kata anak muda
"Saya mau pulang ke rumah nak". jawab sang suami

"loh bukannya bapak buta, dan tak bisa melihat dan tiap hari saya melihat bapak terus bergandengan dengan istri bapak ke mana pun berada" kata anak muda

"Anak muda, perlu kamu ketahui, bahwa selama 25 tahun ini sebenarnya saya tidak buta, tapi hanya berpura-pura saja, semua itu saya lakukan agar tidak ada air mata kesedihan dan rasa tidak enak hati dalam diri istri saya, saya tahu wajah istri saya sudah berubah menjadi sangat menakutkan, tapi itu tidak menjadi masalah bagi saya karena saya begitu mencintainya, cinta yang sederhana, cinta apa adanya dan cinta karena Allah SWT semata."

Sahabat ...

... Apa pun yang terjadi dalam kisah cintamu, ketika kamu sudah memilih seseorang untuk menjadi pendamping dalam hidupmu, terimalah dia apa adanya, dan ingatkanlah dia jika salah ataupun lupa, karena dalam setiap percintaan kita tidak bisa menjadi yang sempurna, tapi kita selalu bisa mencintai dengan cara yang paling sempurna ...


Jadi seorang ibu dirumah, merangkap manager pribadi dari para suami, memang bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang istri.

Perlu banyak tenaga, ketelatenan & persediaan sabar yang cukup untuk tetap stabil mengatur keuangan apalagi jika memang kenyataan kita ditengah kekurangan.

1001 pemikiran yaitu campuran dari ketelitian, kreativitas, keuletan, kepuyengan & rasa syukur di tampilkan demi tetap berputarnya ekonomi keluarga. Memang, siapa yang dapat dengan mudah berkompromi dengan perut yang lapar?

Batin kita pun pasti tidaklah tega ketika harus mendengar rintihan suara kelaparan & kekurangan dari anak2 kita.

Namun, marah, protes apalagi sampai memaki suami, tidaklah akan mempermudah jalan keluar, malah akan semakin menambah masalah & dosa pun pasti tercatat untuk kita.

Bersabar, memang tidak mudah & akan terasa lebih berat terutama bila seorang istri hanya selalu & selalu mengingat kekurangan & kejelekan suami serta alpanya rasa syukur terhadap apa yg telah susah payah seorang suami perjuangkan.

Cukuplah hadits Rasulullah saw berikut jadi nasehat untuk para istri, "Saya melihat neraka yang tidak pernah aku lihat seperti hari ini & saya melihat penghuni terbanyak dari kalangan wanita."
Mereka (para. sahabat) bertanya, "Kenapa wahai Rasulullah?"

Beliau bersabda, "Karena pengingkaran mereka."

Beliau . ditanya, "Apakah karena ingkar kepada Allah?"

Beliau bersabda, "Mereka membangkang & mengingkari kebaikan suami. Jika engkau berbuat baik kepada salah seorang di antara mereka sepanjang tahun, lalu ia melihat darimu sesuatu (yang tidak disukai), maka ia berkata, saya belum pernah melihat darimu kebaikan sama sekali. (HR. Bukhari)

Allah akan tersenyum ketika melihat seorang istri yang selalu mendampingi suami tidak hanya saat suaminya bersuka cita.

Mulianya seorang istri justru terlihat ketika dia pun setia dampingi di saat suaminya berduka atau ditimpa kesusahan.




Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa. Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah. Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya. Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya.

Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istiharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat
kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam. Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban.”

Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada
suaminya melalui tangannya.

Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini.” Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

Sang suami menuturkan, “Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku.”

Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah. Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan “bukan permata biasa”.

Copyright © 2012 Wanita Islami.